PEKERJAAN RUMAH TANGGA
Selasa, 14 Desember 2021
Edit
![]() |
| ilustrasi pekerjaan rumah tangga. Foto: hallodoc.com |
Oleh: Bobby Willys
Pekerjaan Rumah Tangga adalah hasil dari kajian pemikir sosial dalam perkembangan study gender di zaman modern, Kajian ini pertama kali dikemukakan oleh Kaum Feminis Marxis yang ingin mengungkapkan basis material (dasar/akar) dari penindasan perempuan dalam kapitalisme.
Analisis Marxis dalam konsep (theory) Women Question telah menjadi salah satu dari pijakan utama yang digunakan oleh para Feminis Sosialis/marxis hingga saat ini. Namun, menurut Vogel, bangunan teori tradisional sosialis belum mencukupi untuk menjawab Woman Question ini, sebagaimana yang kemudian ditemukan oleh para feminis sosialis/Marxis. Adapun pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh feminis sosialis/Marxis terkait dengan woman question ini, menurut Vogel, berpusat pada tiga hal yang saling berhubungan (hlm. 7-8).
Pertama, semua perempuan, bukan hanya perempuan kelas pekerja, mengalami penindasan di dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal ini, pertanyaan yang muncul ialah apa yang menjadi akar dari penindasan perempuan dan bagaimana karakter lintas kelas dan sejarah tersebut yang dapat dipahami secara teoritis.
Kedua, pembagian kerja secara seksual ada di setiap masyarakat: laki-laki dan perempuan melakukan kerja yang berbeda-beda di mana perempuan cenderung bertanggung jawab pada soal pengurusan dan perawatan anak serta pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya di dalam rumah tangga, sementara mereka juga mungkin terlibat di dalam kegiatan produksi. Pertanyaan yang muncul ialah mengenai hubungan pembagian kerja secara seksual ini dengan penindasan terhadap perempuan, bagaimana perempuan dapat benar-benar mencapainya.? kesetaraan ketika beban kerja pengurusan dan perawatan anak ada di pundaknya, serta apakah gagasan mengenai kesetaraan harus dibuang agar perempuan dapat terbebaskan.
Ketiga, penindasan terhadap perempuan mengandung analogi yang kuat dengan
penindasan terhadap kelompok-kelompok rasial, sebagaimana juga ekspolitasi yang terjadi pada kelas-kelas yang subordinat. Pertanyaan dalam analisis ini cenderung menempatkan penindasan terhadap perempuan atas dasar kerugian mereka (kapital) di pasar kerja. Namun dalam hal relasi domestifikasi terhadap kaum perempuan, cenderung dilihat atau dipandang sebagai suprastruktural dengan eksistensi ideologis, dan hal ini tidak sefundamental relasi kelas yang berasal dari Mode Produksi dalam menunjang bagian dari basis ekonomi. Dalam analisis Marxis bahwa, pekerjaan rumah tangga sebagai seperangkat relasi produksi yang berada dalam basis ekonomi.
Banyak Perdebatan yang sering dilontarkan, pertanyaan ini berkisar pada kategori apa
saja yang dipakai Marx dalam menganalisis perkerjaan bergaji yang dapat diaplikasikan untuk pekerjaan domestik. Dalam hal ini Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa pekerjaan domestik adalah bentuk lain dari produksi komoditas karena outputnya adalah hasil basis dari tenaga kerja komoditas dan ada juga yang berpendapat bahwa, pekerjaan domestik tidak menghasilkan apapun; karena hasilnya (produknnya) tidak memiliki nilai untuk masuk ke pasar, namun secara langsung hasil dari pekerjaan domestik ini masuk ke dalam konsumsi rumah tangga. Dalam hal ini semua pihak sepakat bahwa pekerjaan rumah tangga tidak termasuk dalam relasi produksi yang sama dengan produksi komoditas, karena dalam pekerjaan rumah tangga, khususnya bentuk-bentuk pekerjaan domestik sangat bervariasi dan tidak ada hukum nilai seperti yang berlaku dalam produksi komoditas kapitalis. Dalam produksi komoditas kapitalis, di mana komoditas yang sama harus di buat dalam waktu yang dapat di bandingkan, agar perusahaan-perusahaan yang memproduksinya tetap dapat mengerok keuntungan darinya. Dalam produktivitas pekerjaan rumah tangga, bentuk-bentuk kontrol pekerjaan domestik tidak bersifat langsung. Ibu rumah tangga mengontrol sendiri pekerjaan sehari-hari mereka, tetapi harus juga mengatur kerjaan mereka agar sesuai dengan tuntutan sosial di lingkungannya, dalam hal ini pekerjaan harus disesuaikan dengan standar yang berlaku secara tidak langsung melalui agama, ideologi keluarga, dan sistem feodal yang masih merekat hingga kini, dsb.
Bagi pekerja domestik bayaran, upah yang di bayarkan sebelumnya telah disepakati sedangkan bagi pekerjaan domestik yang tidak ada upah atau gaji dan istri (ibu rumah tangga) harus mengatur sendiri nafkah yang diberikan oleh suaminya, hal ini berakibat pada waktu kerja, bagi pekerja domestik bayaran yang bekerja dalam waktu yang telah ditentukan dan jauh dari rumah (bukan di rumahnya); sedangkan bagi ibu rumah tangga, waktu dalam pekerjaannya tidak akan pernah selesai-selesai, dan tidak akan pernah terpisah dari rumah yang ia tempati.
Lebih jauh berbeda dengan produksi komoditas kapitalis, karena pekerjaan rumah tangga cenderumg dilakukan tersendiri (terpisah) dengan adanya spesialisasi atau kerja sama. Perbincangan seputar wacana keperempuanan yang kebanyakan berkutat pada asumsi pemilahan secara dikotomis (pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan) wilayah domestik dan publik ternyata banyak menyimpan kerancuannya. Ini terjadi tidak hanya pada persepsi tradisional tentang pembagian kerja seksual, tetapi juga pada persepsi peran ganda perempuan. Itu semua terjadi karena wilayah domestik dan publik dipandang sebagai dua sisi yang terpisah secara diametral, Padahal jika ia dipandang sebagai dua titik yang terhubungkan pada garis kontinum (bersinggungan langsung), tentu dikotomi seperti itu tidak akan muncul..
Dalam debat tentang pekerjaan rumah tangga, kaum marxis melakukan studi empiris terhadap ibu rumah tangga dan pekerjaan rumah tangga, yang kemudian menimbulkan beberapa pertanyaan yang tak bisa dihindari oleh kaum marxis itu sendiri, misalnya : Apakah pekerjaan rumah tangga itu menghasilkan nilai surplus yang akan di ambil oleh suami atau majikannya?. Atau apakah pekerjaan domestik merupakan corak produksi terpisah yang dapat diartikulasikan dengan mode produksi kapitalis yang seharusnya diperluas dengan menginput relasi produksi domestik (didomestifikasi)??
Study historis yang dilakukan terhadap perkembangan domestik dan teknologi
yang menunjanginya dalam abad terakhir ini, menunjukan bahwa meskipun dengan adanya teknologi yang memudahkan kerjaan dalam ranah domestik, hal ini tidak memungkinkan kandungan (basis material) pekerjaan domestik juga telah mengalami perubahan. Dengan adanya alat yang mempermudah pekerjaan, tidaklah menjamin pengurangan jumlah waktu yang dihabiskan dalam pekerjaan ini, dengan demikian penjelasan dalam Marxisme yang tidak terlalu bersifat ekonomis ini lebih baik daripada mereka yang memandang pekerjaan rumah tangga murni dalam pemberian kontribusinya terhadap nilai surplus (lih: bose1979) penafsiran dan kontribusi teori marxis yang menjelaskan basis material dalam penindasan perempuan telah mengalami kegagalan atau boleh dianggaap telah menemui jalan buntu, karena analisis relasi produksi pekerjaan domestik ini diambil langsung dari debat, dan dalam debat ini juga gagal menjelaskan mengapa mereka yang bekerja dalam ranah seperti ini (domestic) hanya didominasi oleh kaum perempuan? Nah, dalam debat ini pun kita dapat melihat (menemukan) bahwa menurut teoritis marxis masyarakat kapitalis bergantung sepenuhnya kepada pembagian kerja di antara produksi komoditas yang digaji dan domestik yang tidak digaji (bagi ibu rumah tangga). Jadi, kita harus mengakui bahwa pekerjaan domestik adalah lebih dari sekedar bentuk lain dalam pekerjaan, karena pekerjaan ini mengandung relasi yang lebih spesifik dalam reproduksi manusia. Sehingga perbedaan gender (alat kelamin) sangat penting dalam study pekerjaan rumah tangga. Meskipun dalam analisis study empiris ataupun historis, pekerjaan rumah tangga tidak pernah memberikan analisis yang konkret tentang penindasan perempuan.
Bersambung………!!!!!!
Ditulis ulang oleh : Boby WillsMinggu 21 November 2021

Belum ada Komentar untuk "PEKERJAAN RUMAH TANGGA"
Posting Komentar