EUDAIMONISME BANGSA WEST PAPUA
![]() |
| Eudaimonisme. |
Oleh: Arnold Meaga,
EUDAIMONISME ARISTOTELES
1. Eudaimonia
Aristoteles berpendapat bahwa manusia memiliki tujuan yang perlu dicapainya melalui segala perbuatan. Hampir semua kegiatan menyatakan bahwa tujuan dicapai untuk tujuan lain. Misalnya, seorang ayah bekerja untuk mendapatkan uang. Uang ada untuk membeli kebutuhan. Kebutuhan dipenuhi supaya tugas-tugas dapat terlaksana. Demikianlah seterusnya. Dalam kondisi ini, Aristoteles bertanya apakah terdapat tujuan tertinggi, terbaik, dan terakhir yang dikejar karena dan demi dirinya sendiri, bukan demi yang lain. Jika demikian adanya, segala tujuan yang telah disebutkan tadi pasti terarah kepada tujuan terakhir ini. Aristoteles menuturkan bahwa tujuan terakhir ini adalah eudaimonia1 atau kebahagiaan dalam arti well-being.
Well-being berarti segala kebutuhan ada pada subjek terkait. Manusia hidup dengan baik dan sejahtera. Arti kata dari eudaimonia sendiri bagi bangsa Yunani adalah kesempurnaan atau lebih tepatnya ‘memiliki daimôn yang baik’. Daimōn yang dimaksud di sini adalah jiwa. Jiwa yang baik – atau jiwa yang berbahagia – merupakan tujuan yang tidak diambil demi tujuan lainnnya. Tak seorang pun akan memilih kebahagiaan demi kehormatan, kekuasaan, ataupun kekayaan. Dengan demikian, kebahagiaan bukan merupakan sarana melainkan tujuan terakhir manusia. Menurut isinya, kebahagiaan tidak dapat didefinisikan melalui kondisi-kondisi subjektif manusia. Seandainya kebahagiaan didefinisikan sebagai kondisi subjektif, niscaya akan banyak definisi mengenai kebahagiaan karena seseorang akan mendefiniskan kebahagian secara berbeda di waktu yang berbeda2. Saat sakit, manusia akan memandang kesehatan sebagai kebahagiaan. Saat miskin, manusia akan mengira dirinya bahagia jika ia kaya.
Oleh karena itu, diperlukan definisi yang jelas dan layak untuk menjelaskan semua ‘yang
baik’. Kebahagiaan harus serasi dengan
kebajikan tertinggi yang merupakan keutamaan terbaik diri manusia. Oleh karena rasio dipercayai sebagai bentuk kemungkinan dan juga keutamaan tertinggi manusia, kegiatan yang berkaitan dengan pengetahuan teoretis – kontemplatif – menuntun manusia kepada kebahagiaan sempurna. Aristoteles menuturkan bahwa kehidupan kontemplatif semacam ini lebih dari sekadar manusia karena ada elemen ketuhanan yang jauh mengatasi susunan alamiah manusia terdapat di dalam kehidupan itu.
SEPUTAR POKOK EUDAIMONISME
BANGSA PAPUA
Papua Barat di-integrasikan pada 1 Mei 1963, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanNya pada 17 Agustus 1945 dari kolonialisme Belanda. Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun lamaNya. Bangsa Indonesia selama dijajah oleh Belanda dia (bangsa Indonesia) benar-benar di-Bodohi oleh pemerintah kolonial (Belanda). Selama 350 tahun pula bangsa Indonesia tidak pernah merasakan kebahagiaan, dan selama 350 tahun lamanya Bangsa Indonesia berjuang untuk merebut kebahagiaanNya yakni Merdeka dari Penjajah kolonial Belanda itu sendiri.
Siapapun bangsa manusia di-bumi ini membutuhkan kebahagiaan universal. Kebahagiaan adalah bagian dari konfigurasi fundamental yang layak untuk didapatkan oleh setiap individu makluk manusia. Setiap usaha manusia dalam implementasi pekerjaan tidak lain adalah perjuangan untuk meraih kebahagiaan sejati. Orang bekerja untuk makan, makan untuk hidup, dan hidup adalah untuk kebahagiaan. Kebahagian adalah konfigurasi insting dan pikiran yang mengalami perubahan menyenangkan pada jiwa rasional manusia. Masalah pada setiap individualitas manusia adalah sumber dari ketidak-bahagiaan manusia itu sendiri.
Manusia bersekolah adalah untuk meraih kebahagiaan, manusia berkarier adalah untuk merai kebahagian, manusia berjuang untuk merdeka adalah untuk merai kebahagian dan seterusnya. Kebahagiaan adalah akhir dari segala bentuk ideal yang dikejar oleh makluk manusia itu sendiri. Ir. Soekarno misalnya, dia bersekolah adalah untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan kolonial Belanda. Kebahagian bangsa Indonesia adalah bagian terpenting yang didambakan oleh presiden Soekarno untuk bangsanya. Fidel Castro (presiden Cuba), juga melawan kediktatoran Batista dengan cara angkat senjata dan menggulingkan pemerintahan otoriter/atau pemerintahan boneka yang dikontrol oleh Amerika Serikat. Fidel pun mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan kebahagiaan diatas bangsanya.
Eudaimonisme pada setiap individu, aliansi, komunitas, dan atau bangsa-bangsa manusia didunia adalah yang paling fundamental. FundamentalNya kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan Uang tetapi, dia harus di raih dengan mekanisme rasional. Yang di cari oleh manusia tidak lain adalah kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan tidak datang sendiri tanpa kerja-kerja produktif. Pada dasarnya kebahagiaan adalah sebuah bagian akhir yang diperjuangkan oleh makluk manusia. Sebab itu, kebahagiaan adalah akhir dari semua pekerjaan dan perjuangan manusia.
Aliansi Mahasisa Papua (AMP) yang berbasis di tanah Jawa dan sekitar adalah perkumpulan anak-anak terpelajar yang senantiasa berbicara kebenaran soal historisitas bangsaNya West Papua. AMP adalah aliansi mahasiswa Papua yang eksis melawan kekejaman penjajah kolonial di Papua melalui perjuangan damai (tanpa kekerasan). Apa yang di-perjuangkan oleh AMP adalah bagian dari konfigurasi eudaimonisme itu sendiri untuk bangsa West Papua. Ketidak-bahagiaan kehidupan bangsa Papua ada hubunganNya dengan kausalitas yang menimbulkan cacatnya integrasi politis Papua ke-dalam bingkai NKRI harga mati. Perjuangan AMP, KNPB, TPN-PB/OPM tidak lain adalah untuk kebahagian bangsa West Papua yang besar ini.
Oleh sebab itu, kebahagiaan yang hendak dikejar oleh bangsa West Papua itu merupakan bagian dari hak asasi bangsa Papua. Dan HAMnya bangsa West Papua harus dihargai oleh siapapun bangsa-bangsa di Bumi ini. Apa yang diperjuangkan oleh bangsa Papua adalah untuk bagaimana bangsa-bangsa di bumi ini menghargai HAMnya sebagai manusia yang sama. Jika bangsa Papua menginginkan kemerdekaan layaknya bangsa lain di bumi ini maka, itu bagian dari Hak AsasiNya bangsa Papua. Bangsa Belanda sangat menghargai HAMnya bangsa Papua dari Sorong sampai dengan Samarai. Karenanya, keinginan bangsa Papua untuk mendirikan negara Papua Barat tak pernah dibatasi dan atau dipersulit oleh Belanda. Cita-cita eudaimonisme bangsa Papua disetujui oleh bangsa Belanda tanpa keberatan sedikit-pun. Itulah sifat suatu bangsa asing yang menghargai Hak Asasi Manusia, karena dia paham dan mengerti apa arti dari esensi HAM dan Eudaimonisme itu sendiri.
EUDAIMONISME GANDA
Kebahagiaan bangsa Papua tak bisa dirasakan secara menyeluruh dari Sorong sampai dengan Samarai. Kebahagian universal itu terbatas entitasnya. Oleh sebab itu, kebahagiaan bangsa Papua setidaknya dapat tercapai secara holistik tetapi ketika bangsa Papua itu dapat menentukan nasipnya sendiri (Merdeka dan Berdaulat). Setelah integrasi bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI pada 1 Mei 1963 yang timpang itu, sehingga perasaan dan suasana kebahagian orang Papua seketika itu juga hilang ditelan hegemoni Militarisme Indonesia kolonial.
Sekarang bangsa Papua hidup bersatu dengan Indonesia. Ada orang Papua yang bekerja sebagai PNS, ada gubernur, ada bupati, camat, dan lain-lain. Orang-orang Papua ini selalu hidup dalam eudaimonisme ganda diatas penderitaan dan kucuran air mata bangsa Papua Barat. Artinya jika Papua merdeka orang-orang Papua yang ada dalam sistem akan merasakan kebahagian dari kemerdekaan bangsa Papua itu sendiri, lalau Papua belum merdeka pun mereka akan merasakan kebahagian juga dalam sistem. Sebab itu, kebahagian ganda seperti ini akan dirasakan oleh orang-orang yang notabenenya ada dalam sistem pemerintahan Indonesia kolonial.
Orang-orang dalam sistem tak akan pernah merasakan dari apa yang disebut dengan penderitaan penjajahan yang terstruktur rapi. Karena mereka orang-orang ini berada pada dunia yang benar-benar memfasilitasi zona yang benar-benar nyaman. Mereka inilah yang hidup dengan eudaimonisme ganda di sela-sela penderitaan yang di ciptakan oleh penjajah kolonial diatas tanah Papua yang besar ini.
EUDAIMONISME SEBAGAI IDEAL
Setiap negara bangsa dengan berbagai macam sistem pemerintahan yang dipimpin ada tujuannya untuk warga negaranya. Setiap negara bekerja keras untuk memajukan negara mereka, memajukan manusianya (warga negara) dengan cita-cita tunggal negara yang adalah Mensejahterakan warga negaranya. Kesejahteraan tidak lain adalah kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan adalah bagian dari konfigurasi idealnya masyarakat manusia secara universal. Kebahagiaan itu adalah haknya manusia untuk menggapainya dengan layak sebagai manausia rasional.
Bangsa Papua misalnya; adalah haknya bangsa Papua Barat untuk menentukan NasipNya sendiri (Merdeka). Kemerdekaan bangsa Papua adalah akhir dari cita-cita bangsa Papua secara menyeluruh. Bangsa Papua akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dia mendeklarasi kemerdekaan-Nya sebagai sebuah bangsa melanesia yang merdeka dan berdaulat. Karenanya kebahagiaan bangsa Papua Barat telah dihancurkan dan sedang dihancurkan oleh penguasa penjajah kolonial Indonesia.
Yang perlu dilakukan oleh otoritas negara RI untuk Papua adalah mengakui Papua sebagaj bangsa dan negara yang telah atau sudah mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1 Desember 1961. Hingga kini kemerdekaan Papua sudah dan telah memasuki setengah abat yakni yang ke-60. Selama 60 tahun pula bangsa Papua dijajah dan dimatikan oleh Indonesia kolonial.
PENUTUP
Eudaimonisme adalah akhir dari tujuan manusia itu sendiri. Esensi teori eudaimonisme membawa setiap pikiran manusia untuk eksis mengejar kebahagian sejati pada individu, keluarga, komunitas, aliansi ataupun otoritas negara dalam menjamin warga negara untuk hidup yang lebih baik. Eudaimonisme adalah pandangan hidup yang menganggap kebahagiaan sebagai tujuan segala tindak-tanduk manusia.
Dalam eudaimonisme, pencarian kebahagiaan menjadi prinsip yang paling dasariah. Kebahagiaan yang dimaksud bukan hanya terbatas kepada perasaan subjektif seperti senang atau gembira sebagai aspek emosional, melainkan lebih mendalam dan objektif menyangkut pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu (aspek moral, sosial, emosional, rohani). Dengan demikian, eudaimonisme juga sering disebut etika pengembangan diri atau etika kesempurnaan hidup. (Wikipedia.co.id).
Kesempurnaan hidup adalah kebahagiaan itu sendiri. Kesempurnaan hidup belum di gapai oleh bangsa Papua secara universal. Untuk mewujudkan kesempurnaan hidup bagi bangsa Papua hanya ada satu jalan yang bisa mengantar bangsa Papua sampai ke sana yaitu Merdeka dan berdaulat sebagai bangsa melanesia yang Merdeka.
Kalau ada kekacauan diseluruh tanah Papua maka, adalah penting untuk memverifikasi kebenaran dari akar masalah Papua itu sendiri. Segala tindak-tanduk kerusuhan dan atau segala konfigurasi destruktif yang terjadi di Papua ada hubunganNya dengan kausalitas. Bahwa ada penjajahan di Papua ? Adalah benar bahwa penjajahan yang oleh Indonesia kolonial terhadap bangsa Papua sebagai bangsa terjajah.
Sumber Referensi:
https://journal.unpar.ac.id/index.php/focus/article/download/4086/3037/10468,

Belum ada Komentar untuk "EUDAIMONISME BANGSA WEST PAPUA"
Posting Komentar